Wakaf menurut bahasa artinya menahan, mengekang atau menghentikan. Sedangkan menurut istilah adalah menghentikan perpindahan hak milik atas sesuatu harta yang bermanfat dan tahan lama dengan cara menyerahkan harta tersebut kepada pengelola, baik perorangan, keuarga atau lembaga, untuk dapat digunakan bagi kepentingan umum di jalan Allah swt. Adapun hukum berwakaf atau menyerahkan harta untuk diwakafkan adalah sunah. Sedangkan orang, masyarakat, atau lembaga yang menrima wakaf hukumnya wajib untk memlihara, menjaga, dan
memanfaatkannya. Hukum wakaf sama dengan amal jariah. Sesuai dengan jenis amalnya maka berwakaf bukan sekedar berserma (sedekah) biasa, tetapi lebih besar pahala dan manfaatnya terhadap orang yang berwakaf. Pahala yang diterima mengalir terus-menerus selama benda atau barang yang diwakafkan itu masih berguna dan bermanfaat. Hukum wakaf adalah sunah. Ditegaskan dalam hadits :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا مَات الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ». [رواه مسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah
ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Apabila seseorang meninggal dunia maka
terputuslah semua amalannya kecuali tiga, yaitu: Sedekah jariyah (wakaf), ilmu
yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akan kepadanya.” [HR. Muslim,
Shahih Muslim, II: 14]
Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan.
Akan tetapi, harta wakaf tersebut harus secara terus menerus dapat dimanfaatkan
untuk kepentingan umum sebagaimana maksud orang yang mewakafkan. Hadits Nabi:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّى أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالاً قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِى مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُنِى بِهِ قَالَ « إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا ». قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُبْتَاعُ وَلاَ يُورَثُ وَلاَ يُوهَبُ. قَالَ فَتَصَدَّقَ عُمَرُ فِى الْفُقَرَاءِ وَفِى الْقُرْبَى وَفِى الرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ. [رواه مسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari
Ibnu Umar ra, dia berkata: Umar telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar,
lalu dia datang kepada Nabi saw untuk meminta pertimbangan tentang tanah itu,
kemudian ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhya aku mendapatkan sebidang
tanah di Khaibar, dimana aku tidak mendapatkan harta yang lebih berharga bagiku
selain dari padanya; maka apakah yang hendak engkau perintahkan kepadaku
sehubungan dengannya? Rasulullah saw berkata kepada Umar: Jika engkau suka
tahanlah tanah itu dan engkau sedekahkan manfaatnya. Lalu Umar pun
menyedekahkan manfaat tanah itu dengan syarat tanah itu tidak akan dijual,
tidak akan dihibahkan dan tidak akan diwariskan. Tanah itu dia wakafkan kepada
orang-orang fakir kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, Ibnu sabil, dan tamu,
dan tidak ada halangan bagi orang yang mengurusnya untuk memakan sebagian
darinya dengan cara yang ma’ruf dan memakannya tanpa menganggap bahwa tanah itu
miliknya sendiri.” [HR. Muslim, Shahih Muslim, II: 13-14]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar